Si Mungil
Wednesday, December 6th, 2006Sesaat tanganku yang sedang melipat kain kumal ini berhenti, pandangan mataku ku ayunkan ke ruang sebelah kamar ini.
Ketika itu nampak sosok bocah dengan girang melompat ke kanan dan ke kiri luapkan suka citanya demi melihat gambar tokoh anak kesukaannya.
Tak kusadari Aku benar-benar telah menjadi seorang Ayah.
Raut mukanya yang tak asing bagi diriku sangat jelas menempel di seontran wajahnya begitu pula wajah Sang Ibu.
Bocah mungil itu tumbuh dan bernalar, sepintar Ibunya.
Tubuhnya yang tak begitu montok tapi tinggi semampai, dengan kaus oblong dan tak berlengan,
sambil berteriak-teriak menirukan gerak gerik tokoh idolanya.
meski ucapannya nggak begitu sempurna tapi terdengar jelas.
Ayah . . .
